
Sejarah mencatat bahwa setiap generasi punya medan pertempurannya sendiri. Zaman kolonial berjuang mengusir penjajah, era kemerdekaan bertaruh nyawa angkat senjata, sedangkan perjuanganku sebagai anak Gen Alpha di kelas ICT adalah menahan kantuk di laboratorium komputer. Suasana lab saat itu terasa sangat dingin. Deretan laptop modern berbaris rapi di atas meja, menatapku dengan layar datarnya yang jernih namun terasa asing.
Awalnya, pelajaran ICT terasa santai, ajaib, dan mengalir penuh tawa. Aku berkenalan dengan teknologi lewat Tux Paint, tempat seru untuk belajar memakai touchpad laptop dan menempelkan berbagai gambar penguin yang jenaka. Dari kanvas warna itu, aku berlanjut ke MS Word. Bagiku, mengetik di MS Word rasanya sangat menyenangkan, bagai ruang bebas untuk menulis cerita-cerita lucu secara bebas. Aku juga belajar menggeser slide animasi di PowerPoint dengan seru bersama teman-teman sekelas.
Namun, kedamaian itu mendadak runtuh seperti benteng pertahanan saat menjajah MS Excel. Program paling rumit yang menguras energiku. Menatap baris dan kolom tabel angka yang membeku di layar laptop itu bagai kerja paksa. Bedanya, aku tidak mencangkul sawah, melainkan mencangkul data matematika yang gersang tanpa ujung. Otakku langsung mengalami lag parah, mati gaya, dan kehabisan variasi kreativitas karena rumusnya yang sangat memusingkan.
Di sela-sela kepala yang mulai panas, muncul obrolan horor di media sosial tentang masa depan. Sebuah narasi masa depan mampir di FYP-ku: apakah semua pekerjaan manusia kelak akan digantikan oleh robot pintar? Ada ketakutan nyata yang menyengat dada. Aku khawatir, yang aku korbankan untuk menghafal data Excel ini akan berakhir sia-sia, digulung oleh tsunami kecerdasan buatan sebelum aku sempat lulus sekolah.
Untungnya, duniaku yang membosankan itu mendadak mengalami upgrade total ke resolusi tertinggi. Sekolahku mendobrak zaman dengan meluncurkan program digitalisasi pembelajaran. Laptop kini berubah wujud menjadi kanvas ajaib tempatku memahat masa depan melalui Coding di Scratch. Di gerbang samudra coding inilah, petualangan seruku dimulai bersama Pak Bambang—guru ICT yang hobi memberikan teka-teki logika tak terduga.
Cara belajarku langsung berubah total. Aku tidak lagi dipaksa menghafal materi teks yang panjang. Sebaliknya, aku diajak melompat bebas untuk bereksperimen bersama baris kode warna-warni. Suatu hari, ujian praktik Scratch tiba. Kubuka layar laptop dengan dada membusung karena sudah menghafal seluruh kisi-kisi semalam. Namun, begitu soal ujian dinyalakan, jantungku langsung kaget. Zonk! Kisi-kisi aslinya ternyata kena ghosting total oleh Pak Bambang.
Soalnya benar-benar menguji mental di luar nalar. Aku dipaksa melukis karakter (sprite) sendiri dari nol di atas kanvas kosong. Yang paling membingungkan, aku harus membuat algoritma agar karakter tersebut mampu memantul lincah saat menabrak dinding layar, sekaligus menciptakan efek pantulan saat dua sprite saling bertabrakan di tengah layar. Kepalaku mendadak terasa berasap mematung menatap piksel yang diam.
Aku mencoba tenang, lalu mulai menyusun blok-blok kode melahirkan siluet ikan nemo jingga, ubur-ubur merah muda, dan bintang laut kuning di dasar samudra digital Scratch. Di sela kepusinganku menyusun logika coding, suasana lab mendadak pecah oleh tawa tertahan. Aku melirik ke layar laptop teman-teman di sebelah, dan astaga, samudra digital mereka sedang mengalami krisis glitch massal yang sangat kocak!
Bukannya memantul dengan estetik, sprite buatan temanku malah mengalami kecelakaan beruntun. Akibat salah memasukkan koordinat logika, karakter-karakter mereka langsung menumpuk jadi satu di pojok layar seperti adonan kue yang hancur. Ada juga karakter ikan milik temanku yang tiba-tiba melakukan lompatan tanpa arah.
“Pak, punyaku teleportasi!” teriak Gisel memecah keheningan, sebelum ikannya menghilang gaib dari monitor laptop. Di sudut lain, temanku yang satu lagi berteriak pasrah, “Pak, punyaku cuma bisa mentul-mentul!” karena ikannya terjebak dalam looping abadi memantul tiada henti di tempat yang sama. Aku dan seisi kelas tertawa geli melihat eksperimen logika yang gagal total tersebut.
Di tengah suasana lucu itu, Rasyid nekat mengaktifkan mikrofon laptop untuk merekam efek suara aslinya demi mengejar poin kreativitas pribadi.
“Nggak usah pakai suara,Rasyid” tegur Pak Bambang,
“Lho, Pak, ini namanya kreativitas tingkat tinggi!” protesnya jenaka.
Meski dilarang, jiwa kreatifku juga meluncur bebas. Di sela-sela logika coding yang rumit, aku nekat menyelipkan pantun rahasia dadakan untuk melunakkan hati Pak Bambang.
Ikan nemo berenang sambil mengambang,
Bintang laut di tepi lautan.
Halo, Pak Bambang…
Ayo, kasih senyuman!
Teka-teki ujian yang menegangkan itu akhirnya pecah oleh tawa hangat Pak Bambang yang terhibur. Hari itu aku memetik pelajaran emas, coding bukan sekadar mengetik instruksi kaku, melainkan seni memecahkan masalah rumit dengan kepala dingin, eksperimen berani, dan hati yang riang.
Cerita manis ini juga sampai ke rumah. Ibu tidak menyangka bahwa anak seusia 11 tahun sepertiku sudah bisa merakit aplikasi game edukasi sendiri dari hasil pemikiran mandiri di kelas ICT.
Keberanian dari kelas ICT Pak Bambang menjadi bahan bakar utama bagiku untuk melangkah mengikuti kompetisi coding tingkat nasional ini. Di dalam proyek game edukasi lingkungan yang aku bangun di Scratch, aku mempraktikkan seluruh ilmu pemrograman yang telah aku pelajari.
Saat memulai demo di depan kamera, aku membuka presentasi, “now I will explain how this game works.”
“From a programming point of view, this scratch game is built using variables. There are two main variables in this game.” Yaitu, “New Year Waste“ melawan “Eco Resolution“. Untuk menggerakkan robot, aku merakit “conditions and events“. Logikanya berjalan “every time the player clicks an item.” Contohnya, “next I choose a reusable food box instead of Styrofoam” and “choosing a compact reusable bag.“
Aku juga memasukkan edukasi bahaya sampah “like plastic or Styrofoam.” Puncaknya adalah logika if-then. Sistem mendeteksi: “if eco resolution is higher than New Year waste“, maka pesan menang (Winner) muncul. Namun jika kalah, “the earth become polluted and damaged.” Coding ini membuktikan anak sekolah bisa ikut menjaga bumi.
Petualangan seru ini membuatku punya harapan besar untuk masa depan pendidikan digital di Indonesia. Pelajaran coding di sekolah terbukti sukses membuat pola pikir sebagai generasi penerus menjadi lebih kritis, kreatif, dan berani mencari solusi sejak dini.
Sekarang, aku tidak perlu takut lagi posisiku di masa depan akan direbut oleh robot pintar. Sebab, kamilah generasi yang akan membuat, mengendalikan, dan menulis baris kode untuk teknologi tersebut. Terima kasih, Pak Bambang atas semua ilmu ICT yang menyenangkan ini. Bersama baris kode di layar laptopku, aku siap menguasai masa depan cerah menuju Indonesia Emas 2045!
