Saku yang Kutahan

Cerpen Saku yang Kutahan ini mengisahkan tentang kejujuran dan batin seorang anak di tengah hiruk pikuk pasar.

Seribu rupiah itu sudah hampir masuk ke sakuku.

 Jari-jariku bahkan sudah menyentuh kain celana, tapi tiba-tiba suasana pasar seperti membanjiri telingaku, suara orang berjualan, orang menawar.

 “Ayam kampung! Ayam hidup!”

 “Cabai merah! Cabai merah!”

Pelajaran di Lorong Pasar

Lorong pasar mendadak penuh. Payung-payung plastik berwarna berdiri di atas lapak sayur, cabai merah memerah seperti bara di atas tampah bambu. Dekat penjual ayam, ada anak laki-laki yang berdiri memeluk kantong plastik berisi tomat. Bajunya tampak kebesaran, gaya warisan dari kakaknya. Kadang dia menendang kerikil kecil, matanya memperhatikan orang-orang yang sibuk tawar-menawar ayam.

“Wawan, anaknya Bu Sarimi itu,” bisik Mbah saat tahu aku melihat anak itu.

“Yang jual sayur di ujung lorong?”

Aku mengangguk.

Dia memang seperti sudah biasa di pasar sejak pagi, kadang bantu ibunya menata sayur, lalu kembali mengawasi lapak ayam. Tapi waktu itu, aku nggak terlalu memikirkan si Wawan. Aku lanjut melangkah ke warung tempe.

Bunyi pisau beradu talenan, besi timbangan berdenting, keranjang bambu digeser di tanah yang masih lembap kena embun. Pasar kecil di desa buka setiap hitungan jawa, pasar wage seperti sungai manusia yang nggak pernah berhenti mengalir dan aku berdiri di tengah-tengahnya, memandangi uang di telapak tanganku.

Seribu rupiah. Uang yang jelas-jelas bukan milikku.

“Kenapa berhenti?” tanya seseorang dari samping.

Aku menoleh, ternyata si anak laki-laki yang tadi. Kantong plastik tomat di tangannya bergoyang pelan seperti bandul.

“Kembaliannya kelebihan,” kataku.

“Berapa?”

“Seribu.”

Dia cuma nyengir. “Cuma seribu.”

Aku diam saja. Uang seribu rasanya kecil, bahkan nggak berat di tangan, tapi entah kenapa justru jadi terasa berat.

                                                            ***

Pagi itu, sebelum berangkat. Mbah sudah ngajak ke pasar. Kami lewat pematang sawah, matahari masih naik pelan dari balik bukit. Embun masih nempel di daun padi.

“Kalau ke desa, ikut ke pasar,” kata Mbah sambil bawa keranjang bambu.

“Kenapa?”

“Biar tahu kehidupan.”

Jujur, aku nggak langsung paham. Buatku, pasar itu ya cuma tempat beli sayur. Tapi sesampainya di sana, aku mulai mengerti.

Pasar itu hidup. Payung plastik warna-warni berdiri menjaga lapak sayur, cabai merah ditumpuk seperti bara, daun bayam dan kangkung masih segar, basah. Di sudut lorong ada bapak tua yang jual benih sayur. Di sampingnya, pedagang ayam duduk dikelilingi keranjang besar penuh ayam kampung.

Seorang ibu sibuk menawar ayam,

“Kurangi sedikit, Pak.”

 Di sebelah keranjang ayam itu, aku melihat lagi si anak laki-laki yang tadi. Bajunya kebesaran, rambutnya berdiri tak terurus, tangan kanannya menggantung kantong plastik tomat.

Nggak lama, Mbah menyuruhku beli tempe dua ribu di warung sudut. Ia memberiku selembar uang sepuluh ribu.

Aku berjalan menyusuri lorong. Bau bawang bercampur ikan asin dan daun pisang. Pisang goreng masih mengepul di tangan ibu penjual, kakek tua menata jagung rebus. Aroma ikan semar dan tuna asap menggugah selera. Warung tempe ujung pasar itu kecil, berdinding papan tua, atap sengnya miring.

“Bu, tempe dua ribu,” kataku.

Ibu penjualnya membungkus tempe pakai daun, lalu memberiku kembalian.

“Nih kembaliannya.”

Aku mengangguk dan berlalu.

Pasar makin ramai. Anak kecil lari menenteng plastik kerupuk. Dua ibu masih tawar cabai, tawa mereka mengisi lorong. Aku berhenti di bawah pohon jambu, membuka telapak tangan, menghitung uang kembalian. Hitung sekali. Dua kali. Harusnya delapan ribu, tapi di tanganku sembilan ribu. Seribu lebih banyak.

Aku melirik ke warung tempe lagi. Sudah ramai pembeli. Si ibu terus memotong tempe. Mungkin dia memang nggak sadar kelebihan tadi.

“Masukin aja ke saku,” kata suara di sebelahku.

 Si anak laki-laki itu lagi.

“Kamu lihat dari tadi?”

Dia angguk santai. Tanganku mulai ragu mendekati saku celana.

“Kalau kamu jadi aku?”

“Sudah dari tadi masuk,”

Katanya santai. “Seribu doang.”

Beberapa langkah dari kami, seorang anak kecil berdiri di depan kotak es lilin. Matanya nempel ke es warna-warni, tangannya kosong. Cuma menatap.

Seribu rupiah. Uang kecil. Tapi, ya Allah, pagi itu jadi terasa lain.

“Balikin juga belum tentu ibunya sadar,” kata si anak lagi.

Aku melihat sakuku. Saku yang biasanya biasa saja, pagi itu seperti harus memilih. Kalau uang itu masuk, mungkin nggak ada yang tahu. Tapi aku tahu. Saku itu yang bakal menyimpan, bukan cuma uang, tapi juga rahasianya.

Aku tarik napas.

“Kamu pernah kehilangan uang?”

Dia diam sebentar. Angguk.

“Berapa?”

“Dua ribu.”

“Terus gimana?”

“Ibu marah. Uangnya buat beli gula. Padahal aku cuma jatuhin di jalan.” Dia menendang kerikil sekali lagi.

Aku melihat uang di tangan. Seribu rupiah. Rasanya jadi tahu apa yang harus kulakukan.

“Aku balik dulu,” pamitku.

Dia cuma mengangkat bahu. “Terserah.”

Aku kembali ke warung kecil itu.

“Bu…” panggilku.

Ibu penjual tempe menoleh.

“Tadi kembalianku kelebihan seribu.”

Wajahnya sedikit kaget. Ia mengecek uang di kotak kecil.

“Benar juga… makasih ya, Nak,” katanya sambil tersenyum.

            Baru aku sadar, uang di kotaknya tinggal sedikit. Kalau tadi aku simpan uang itu, mungkin dia bakal kesulitan memberi kembalian.

Aku kembali ke tempat Mbah.

“Sudah beli tempenya?” tanya Mbah.

“Sudah.”

“Kok lama?”

“Ada uang yang salah jalan.”

Ia cuma tersenyum kecil. Kami pulang menyeberang pematang. Angin pagi mengusap daun padi. Tangan masuk ke dalam saku—kosong. Tapi langkahku seolah lebih ringan.

Beberapa langkah lagi, suara Mbah pelan saja,

“Kalau tadi kamu simpan, mungkin nggak ada yang tahu.”

Aku menoleh.

“Tapi kamu sendiri pasti tahu.”

Kami jalan, pasar kian jauh, suara ayam dan tawar-menawar menghilang ditelan angin sawah. Di situlah aku paham. Korupsi sering diceritakan besar-besaran, tentang uang miliaran, tentang negara.

Padahal kadang mulainya dari yang kecil. Dari selembar uang yang salah jalan. Dari sebuah saku yang bisa saja menahan, atau melepaskan. Kadang, kejujuran nggak perlu diumumkan. Cukup kita sendiri yang tahu—kalau tangan kita tidak mengambil apa yang bukan milik kita.

“Baca juga karya saya lainnya: [Sang Literasi Cilik]

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *