Jejak yang Tidak Pulang

Di kota, aku jarang menyentuh tanah. Sepatuku harus bersih, celanaku tidak boleh kena air. Ibu selalu mengingatkanku soal itu. Kalau pulang dengan pakaian kotor, aku pasti dimarahi. Karena itu aku terbiasa melangkah cepat dan hati-hati—menghindari genangan, menghindari lumpur, menghindari apa pun yang bisa meninggalkan bekas.

Di rumah nenek, sore itu, aku baru tahu satu hal sederhana:
ada tanah yang tidak peduli pada aturan kota.

Liburan membuat segalanya terasa lebih pelan. Desa bernapas tanpa dikejar waktu. Sawah membentang di belakang rumah. Pematangnya tipis, membelah hijau padi seperti garis yang bisa hilang kapan saja. Matahari turun perlahan, memantul di air yang tenang. Angin lewat lirih, menyisir padi, membawa bau tanah basah yang membuat hidungku mengernyit.

Seekor capung biru melintas rendah di atas pematang. Sayapnya bergetar sebentar, lalu hinggap di ujung lumpur.

Aku menatapnya. Capung itu terlihat nyaman di tempat yang bahkan tidak ingin kusentuh.

Rima dan Raka sudah lebih dulu turun. Mereka melepas sandal dan melangkah tanpa ragu. Lumpur menutup kaki mereka sebentar, lalu melepaskan. Mereka tertawa kecil, seolah tanah selalu ramah.

Aku masih berdiri di tepi pematang. Lumpur itu terlihat lengket dan basah. Kakiku mundur sedikit tanpa sadar.

“Turun aja,” kata Raka.

“Aman kok,” tambah Rima.

Aku menatap sandalku yang bersih.

Lalu menurunkan satu kaki.

Lumpur menyambut pelan.

Dingin. Lengket.

Aku meringis tanpa sadar. Rasanya aneh—tidak seperti lantai rumah atau trotoar kota.

Napas kutarik dalam. Kaki satunya ikut turun. Aku melangkah. Lalu berhenti.

Aku menoleh ke belakang.

Jejak itu ada. Rapi. Berderet.

Tanpa sadar aku menghitungnya.

Bukan dua.

Bukan tiga.

Aku berhenti saat sadar satu di antaranya terlalu kecil. Bukan kakiku.

Kaki kuangkat sebentar, memastikan ukurannya tidak berubah. Dadaku terasa tidak enak.

“Kinan?” Rima menoleh.

“Jejaknya…”

Raka ikut melihat. “Kenapa?”

“…nggak pas.”

Rima mendekat. “Ah, mungkin bekas orang tadi.”

Aku mengangguk. Tapi rasa tidak enak itu tidak hilang.

Kami berjalan lagi. Angin menggerakkan padi. Sawah terasa sepi, tetapi bukan kosong.

Kami sampai di bagian yang airnya lebih dalam. Aku berjongkok dan mencelupkan tangan. Airnya licin dan dingin. Tangan itu cepat kutarik kembali.

“Ikan,” kata Raka.

Seekor ikan kecil melintas lalu menghilang. Raka dan Rima memancing di parit kecil. Tiba-tiba tali mereka bergerak cepat. Seekor ikan terangkat, menggelepar, lalu dimasukkan ke ember kecil. Air di dalamnya bergetar pelan.

Aku ikut mencoba memancing. Taliku terasa berat. Diam, tapi menahan. Saat kuangkat, seekor yuyu muncul, capitnya mencengkeram. Refleks aku mundur.

“Yuyu,” kata Raka.

Aku menatap hewan itu dengan perasaan campur aduk. Tidak berani memegangnya. Akhirnya kuturunkan kembali ke parit. Air bergetar, lalu tenang.

Dari kejauhan, seperti ada yang memanggil namaku. Jauh. Samar.
Aku menoleh. Tidak ada siapa-siapa.

“Kita pulang?” tanyaku pelan.

“Nanti,” jawab Raka.

Aku mengangguk. Tapi dadaku terasa semakin tidak nyaman.

Aku melangkah lagi.

Tanah di bawah kakiku tidak bergeser.

Kaki kanan kucoba tarik. Tidak bisa.

Kaki kiri ikut tertahan.

Lumpur naik perlahan, menutup mata kaki.

Napas terasa sempit.

Kalau aku jatuh, bajuku pasti kotor semua.

Ibu pasti marah.

Kaki kutarik lebih keras. Lumpur justru menahan lebih kuat.

Aku tidak jatuh.

Aku hanya tidak bisa bergerak.

Untuk pertama kalinya, napasku terasa tidak punya tempat.

“Kinan?” suara Rima terdengar cepat.

“Sandal…” kataku terbata.

Saat kakiku bergerak sedikit, salah satu sandal terlepas. Aku merasakannya lebih dulu sebelum melihatnya. Lumpur menelan sandal itu pelan.

“Sandalmu lepas,” kata Raka.

Rima langsung berjongkok. Tangannya masuk ke lumpur.

“Tenang, Kin. Jangan gerak dulu.”

Raka menahan lenganku.

“Pelan-pelan aja. Jangan ditarik.”

Aku berhenti bergerak. Napasku berat, air di sekitar kakiku menjadi keruh. Lumpur bergerak ke mana-mana. Rima masih jongkok di dekat kakiku, tangannya masuk ke lumpur, diaduk pelan-pelan.

“Ada,” katanya tiba-tiba.

Dadaku langsung terasa ringan. Aku menahan napas.

Rima mengangkat sandalku, lumpur menetes dari talinya. Aku hampir tersenyum,tapi senyumku berhenti.

Talinya putus.

Sandal itu terbelah dua. Bagian atasnya di tangan Rima, bagian bawahnya tertinggal di lumpur. Aku menatapnya lama. Rasanya seperti kehilangan barang kecil yang sebenarnya masih ada, tapi sudah tidak bisa dipakai seperti semula.

“Maaf, Kin,” kata Rima pelan.

Aku menggeleng.

“Gak apa-apa.”

Raka menepuk lenganku. “Masih bisa jalan.”

Aku mengangguk.

Lalu aku menjejak tanah keras dengan satu sandal.

Langkahku pincang, tapi nyata.

Kami berjalan pulang. Rasanya lebih panjang.

Beberapa kali aku menoleh. Jejak itu semakin samar, diratakan air.

Di rumah, ibu menatap kakiku.

“Kotor sekali.”

Aku menunduk.

“Main ke mana?”

“Ke sawah.”

“Seru?”

Aku berpikir sebentar.

Aku ingat takutku.

Aku ingat lumpur menahan kakiku.

Aku ingat Rima memegang tanganku.

Aku ingat aku tidak jatuh.

“Beda,” kataku pelan.

Malam itu aku memandangi kakiku yang sudah bersih. Tapi rasa lumpur yang dingin dan lengket masih tertinggal.

Pagi-pagi sekali, aku kembali ke sawah. Embun segar menempel di padi. Udara dingin menyentuh kulit. Seekor capung melintas, lalu hilang.

Aku berdiri di tepi pematang.

Tidak langsung melangkah.

Aku menunggu.

Tanah itu diam.

Tidak ada cekungan.

Tidak ada bekas.

Aku tersenyum kecil. Bukan karena aku tidak takut kotor lagi.

Tapi karena aku tahu rasa takut itu bisa dilewati.

Jejak itu memang tidak pulang.

Ia tinggal di sore kemarin—

dan di langkahku yang sekarang.

Dan untuk pertama kalinya,

aku tahu melangkah bukan soal tetap bersih,

tetapi berani tetap berjalan

meski tahu tanah bisa menahanku lagi.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *