Langit dalam Botol Fier

Fier suka langit. Bukan hanya suka, tapi suka banget, sampai-sampai dia pernah bilang, “Kalau bisa, aku mau simpan langit dalam botol!”

Yayuk, sahabatnya, cuma tertawa. “Fier, langit itu luas banget. Nggak muat masuk botol!”

Tapi Fier punya ide. Ia naik ke atap rumah saat langit senja mulai berubah warna jingga, ungu, biru muda. Ia membawa botol kaca kosong bekas selai stroberinya.

“Nggak mungkin, Fier,” kata Yayuk.

“Kalau kita nggak coba, mana tahu?” jawab Fier sambil membuka tutup botol.

Saat langit berubah paling cantik, Fier mengangkat botolnya tinggi-tinggi dan WHUSSSSH!… ada angin lembut, seperti langit sedang bernapas.

Botol itu menyala. Di dalamnya, ada warna senja bergerak perlahan. Jingga menari, ungu berputar, bahkan biru berkilau seperti tetes bintang.

Yayuk melongo. “Kamu… berhasil?”

Fier tersenyum. “Langit mau bermain denganku Yayuk.” Teriak Fier pada Yayuk

Sejak itu, botol langit disimpan di kamar Fier. Tapi kabar cepat menyebar ke seluruh telinga tetangga. Wartawanpun berdatangan. Ada yang ingin membelinya. bahkan cuma ingin melihatnya. Mereka bilang itu hanya permainan cahaya bahkan ilusi imajinasi manusia, langit dalam botol kaca itu bohongan, hanya awan animasi anak kecil yang bermimpi.

Saat, malam itu datang,hujan juga turun rintik, tiba – tiba ada ketukan dari jendela. Seorang wanita tua berjubah hitam berdiri di luar, membawa keranjang dan payung. Wajahnya tidak jelas, tapi suaranya lembut seperti bayangan.

“Langit dalam botolmu itu istimewa Fier. Apakah kau mau ikut denganku ke dunia mimpi? Tempat langit bisa kamu lukis, dan bintang bisa kamu bawa pulang.”

“Masa sih?” tanya Fier, matanya berbinar saat mendengarnya.

“Bawa botolmu, dan mari kita pergi,” bisik wanita itu kepada Fier

Yayuk mencoba menahannya. “Fier, jangan. Kamu cukup di sini aja.” Kata Yayuk

Tapi Fier tetap mengikuti wanita itu. Mereka berjalan ke dalam kabut. Masuk ke pintu awan berwarna permen kapas. Tapi anehnya… langit itu kosong. Hanya putih. Tak ada senja apalagi bintang.

“Mana langitnya?” tanya Fier.

Wanita tua itu tertawa. “Kau meninggalkannya. Di dunia nyata. Fier”

Botol Fier pecah. Warna-warna senja menghilang.Kilauan bintang ikut memudar

“TIDAAAK!” Fier berteriak sekuat tenaga.

Fier membuka mata. Ia terbaring di ranjang kamar rumah sakit. Yayuk duduk di sebelahnya, matanya merah, sedih yang tak tertahan.

“Kamu jatuh dari atap seminggu lalu,” kata Ibu.

“Botolnya?” bisik Fier.

“Pecah,” jawab Yayuk pelan.

“Tapi anehnya…” Ia menunjuk jendela.

Di sana, tergantung botol kecil yang baru, dan di dalamnya tampak berisi cahaya jingga, ungu, dan biru. Kemudian Fier menatap tangannya. Di telapak kirinya, ada noda biru samar.

Ia tersenyum. “Mungkin langit memang nggak bisa disimpan. Tapi mimpi? Bisa dibawa pulang.”

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *