Pensiunnya Sang Maestro Pelarian di Hari CKG

Penulis : Gusti Kinanti

Di sekolahku, pelaksanaan Hari CKG dan aroma alkohol medis adalah mantra yang sanggup mengubahku menjadi bayangan.
Kedatangan tim medis berbaju merah berjubah putih, bukan sekadar kunjungan rutin, melainkan simfoni horor yang memicu insting purbaku. Melarikan diri, aku adalah sang maestro pelarian, seorang “veteran kabur” yang sanggup mencari celah di balik rimbunnya pohon mangga atau keheningan toilet, demi menghindari sang naga kecil berujung perak—jarum suntik. Ketakutan ini bukan tanpa alasan. Bagiku, benda kecil itu adalah ancaman nyata terhadap kedaulatan kulitku. Namun, hari itu, petualangan “petak umpet” bertahun-tahun harus menemui babak final di lorong sekolah yang riuh.

Pagi itu, langit tampak lebih cerah, seolah semesta bersiap menonton sebuah kisah besar. Gerbang sekolah dihiasi spanduk megah bertuliskan “Cek Kesehatan Gratis (CKG): Investasi Unggul menuju Indonesia Emas”. Di dalam kelas, aku duduk di bangku paling belakang, mencoba mengecilkan tubuh agar tidak terlihat oleh para penjaga lorong. Insting pelarianku memuncak, namun setiap kali aku berniat melompat keluar, aku selalu terbentur pada satu karang yang kokoh: Bu Banun.

Beliau adalah penjaga lorong dengan langkah kaki berwibawa. Gemanya sanggup mengejar hingga ke relung persembunyianku yang paling gelap. Langkah Bu Banun adalah detak jam yang mengingatkanku bahwa ego pelarianku hanyalah penundaan terhadap takdir bernama sehat. Setiap kali beliau melintas, aku seolah mendengar suara sepatunya berkata, “Tidak hari ini, Sang Veteran Kabur.” Beliau adalah radar berjalan yang sanggup mendeteksi rencana pelarianku sebelum sempat kupikirkan.

Aku mengintip dari balik pintu kelas, memantau tim medis yang mengubah kelasku menjadi laboratorium mini. Di atas lemari, deretan piala prestasi berdiri tegak, berkilauan diterpa mentari pagi. Mereka seolah saksi bisu yang menonton dengan sinis ke arahku yang masih memeluk erat ketakutan masa kecil. Di dinding, tulisan “Man Jadda Wajada” seakan berbisik pilu.

“Bagaimana mungkin kau menaklukkan puncak dunia, jika menaklukkan sebatang jarum saja kau gagal hari ini?”

  Pertanyaan itu menghantam egoku, membuatku terdiam di pojok kelas yang mulai terasa sempit. Ketakutanku mulai mencair saat melihat proses pemeriksaan yang ternyata jauh dari bayangan hororku. Pos pertama adalah arena tebak-tebakan yang asyik. Sebuah papan dengan huruf ‘E’ menari dalam berbagai ukuran tertempel di sana. Aku melihat teman-temanku menutup satu mata secara bergantian—ritual yang membuat mereka terlihat seperti bajak laut cilik mencari koordinat harta karun. Saat mereka menebak arah huruf yang mengecil, aku tersadar betapa berharganya ketajaman penglihatan ini. Petugas medis mencatat hasil, memastikan mata kami cukup kuat untuk membaca ribuan halaman buku menuju cita-cita. Ini bukan sekadar tes mata, ini adalah cara negara memastikan visi kami tetap tajam menatap fajar Indonesia Emas.

Petualangan berlanjut menuju labirin telinga. Aku di arahkan menuju kursi kayu di mana seorang petugas medis tersenyum ramah, memegang lampu senter kecil yang sinarnya putih bersih. Dengan gerakan hati-hati, ia mengintip ke dalam liang telingaku. Rasanya sedikit geli, seperti ada angin sepoi-sepoi yang masuk membawa ketenangan. Petugas memastikan bahwa “jendela suara” milikku tidak terhambat, agar setiap butir ilmu dari guru dapat kuserap tanpa sisa. CKG ternyata sangat detail, mereka memastikan telinga kami sanggup mendengar panggilan masa depan dengan jernih.

Kegembiraan semakin terasa di pos kesehatan gigi. Di sini, tidak ada jarum, hanya instruksi sederhana untuk membuka mulut selebar mungkin. Tawa pecah saat teman-temanku saling pamer ekspresi lucu. Dokter gigi sigap memeriksa barisan gigi kami, mencari kuman-kuman nakal yang bersembunyi. Dari sini aku belajar bahwa konsentrasi belajar dimulai dari mulut yang sehat. Jika gigi sakit, rumus matematika paling sederhana pun akan terasa serumit teka-teki kuno yang mustahil dipecahkan.

Namun, jantungku kembali bertalu bak genderang perang saat namaku mengalun dari bibir petugas. Kakiku terasa berat, seolah lumpur baru saja mengeras di sepatuku. Bau alkohol yang tajam menyerang penciumanku—momen “penghakiman” tiba. Aku hampir saja mengambil langkah seribu, namun sosok Bu Halijah datang membawa keteduhan. Beliau menyambutku dengan senyum yang menenangkan badai kecemasan di dadaku.

“Ayo, Nak. Jangan takut. Ini untuk masa depanmu, agar kamu bisa terus berdiri tegak seperti piala-piala itu,” bisiknya lembut sambil menuntunku yang gandolan pintu.

Di titik ketakutan itu, Bu Halijah mendekapku dengan hangat. Beliau memeluk pundakku, memberikan rasa aman yang melampaui rasa takut. Dekapan itu adalah jangkar yang menahan perahuku agar tidak karam dalam badai kecemasan. Aku memejamkan mata rapat-rapat, meringis sekuat tenaga, menunggu rasa sakit setinggi gunung yang selalu kubayangkan.

Satu detik… dua detik…

“Sudah selesai, pejuang sehat!” petugas berbaju merah itu berseru ramah.

Aku membuka mata dengan bingung. Ternyata, naga perak yang kutakuti hanya memberikan cubitan lembut sang malaikat pelindung. Rasa sakitnya hanya sebutir debu. Aku melihat kapas kecil menempel di lenganku, tanda kehormatan bahwa aku telah menaklukkan ego pelarianku. Bu Banun yang berdiri di ambang pintu pun memberikan jempolnya dengan bangga. Hari itu, maraton di lorong sekolah resmi berakhir dengan kemenangan telak bagi keberanianku.

Pengalaman ini adalah pencerahan besar bagi aku yang baru berusia sebelas tahun. Aku paham bahwa kesungguhan belajar (Man Jadda Wajada) harus diawali dengan kesungguhan menjaga raga. Raga yang sehat adalah rumah bagi jiwa yang kuat dan pikiran yang cemerlang. Kita tidak lagi membutuhkan pelari yang menjauh dari tantangan kesehatan, melainkan pejuang sehat yang siap melesat meraih prestasi setinggi langit.

Kini, setiap kali aku menatap deretan piala di kelas, aku tersenyum bangga. Terima kasih Bu Banun yang tak lelah mengejarku menuju pintu keberanian, dan terima kasih Bu Halijah yang telah mendekapku hingga seluruh rasa takutku menguap. Hari ini, aku resmi berhenti sebagai “veteran kabur”. Aku siap menyongsong fajar prestasi di bawah langit Indonesia Emas 2045 dengan raga yang sehat dan jiwa yang kuat.

Melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) ini, aku menyadari negara sedang menanam benih investasi besar pada raga kami. Terima kasih kepada pemerintah atas kepedulian yang nyata melalui Program Hasil Terbaik Cepat ini di era kepemimpinan Presiden Bapak Prabowo Subianto. Kini, aku  tidak perlu lagi lari dari Bu Banun atau sembunyi dari jarum suntik. Sebab, untuk menjemput fajar Indonesia Emas 2045, kita tidak butuh pelari yang menjauh, melainkan pejuang sehat yang siap melesat. Di bawah semangat Man Jadda Wajada, saya siap melangkah maju dengan tubuh yang kuat dan jiwa yang tangguh demi bangsa dan negara!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *