Pelangi dari Dapur Ibu

“Artikel Pelangi dari Dapur Ibu ini mengisahkan tentang kreativitas dan kehangatan keluarga yang berawal dari sebuah dapur.”

Gedung-gedung tinggi menjulang di kiri kanan jalan, lampu kendaraan berkelip bagai kunang-kunang modern di rimba beton. Di seberang hotel Gajah Mada berdirilah Sara Café, toko modern dengan aroma masa lalu. Musik gamelan lembut mengalun, namun aroma kelapa dan gula jawa lebih dulu menarik perhatian.


“Ini klepon, Dik,” kata Mbak Sara di balik meja kasir, “tapi aku menyebutnya Sweet Pearl.”
Senyum pemilik toko pun mengembang.

Ibu terus melangkah,waktu serasa berputar ke masa lalu, kue kekinian berkilau di etalase kaca, tampak juga kue tradisional berjejer ada klepon, getuk, dan lemper tersenyum malu dalam bungkus daun pisang, seolah ia berbinar memancarkan rasa lezatnya.

Ibu bukan ingin membeli roti modern dengan krim warna-warni, melainkan mencari rasa masa kecil, rasa yang dulu ia kenal dari tangan hangat Mbah Sri.

Aku diam. Kata-kata Ibu mengalun pelan, seperti lagu yang menenangkan.
Namun, aku sibuk dengan ponsel, memotret jajanan tradisional untuk tugas Open Market Nusantara.

“ Tari, jadi pilih mana?” tanya lembut Ibu

“ Rasanya ingin ku beli semuanya bu!” candaku sambil menepuk perutku yang ingin memakanya

“ Pilih dua saja, fikirkan dulu?” seru Ibu

Lama terdiam menatap banyak macam kue tradisional, bika ambon, apem aroma buah nangka, “aduh susah banget pilihnya”. Ku putuskan membeli kue lapis dan getuk dua rasa.

“  Enak dan  manis rasa kue lapis ini!” saat cicipi kue lapis warna putih, merah dan coklat.

“ Waw lembut, gurih, manis, sangat lezat” ku lahap getuk  putih dan coklat yang berbentuk unik seperti tumpukan ranting pohon.

“ Tari sudah pilihan kue untuk open market besok?” tanya Ibu

“ Aku ingin membuat getuk yang unik dan sehat bu?” jawabku

“ Bagaimana kalau kita buat getuk pelangi”  ajak ibu

“ Tapi di sekolah enggak boleh pakai pewarna! karena enggak sehat!”

“ Kita pakai warna alami bunga telang di taman depan, dan kita cari bahan lain di kulkas dapur!”

“ Bagaimana? “ tanya Ibuku

Jemariku menarik Ipad dengan cepat, menggambar desain di canva untuk  kemasan Open Market Nusantara.

“ Oh My Getuk” nama produkku

“ Getuk pelangi  peninggalan masa lalu rasa masa kini” 

Keesokan pagi, aroma singkong kukus menyapa dapur kecil. Uapnya naik perlahan dari kukusan, menari seperti kabut tipis. Di tengah serangan uap itu, Ibu berdiri dengan tangan yang cekatan, menumbuk singkong yang baru matang, suaranya ritmis, duk… duk… duk… seperti alunan merdu gamelan menyapa pagi.

Ibu menyiapkan pewarna alami dari alam. Ungu dari bunga telang, merah  muda dari  buah naga, hijau dari daun pandan, kuning dari kunyit dan putih dari singkong alami. Aku membantu mencampur warna – warna itu, tanganku belepotan, tapi di mataku adonan itu seperti langit sore yang penuh cahaya.

 “Cantik ya, Bu… seperti pelangi,” kataku pelan.

Ibu tersenyum, “Pelangi yang lahir dari dapur kecil kita.”

Tanganku bergerak perlahan, hati-hati seperti pelukis menata senja. Lapisan demi lapisan ku susun rapi  merah muda, kuning , hijau, ungu dan putih.

“Jadi juga, Bu!  Oh My Getuk Pelangi!” seruku bangga.

Kucicipi sepotong kecil. “Lembut sekali dan manisnya pas”.

Tapi, tiba – tiba aku terdiam ada rasa aneh di lidah, rasa tak asing seperti aroma minuman kesehatan buatan Ibu, ahhh Jamu  kunyit.

“Pasti teman – teman kurang suka aroma kunyit?” gumamku berfikir

“ Apa ya penggantinya?” sambil mencari bahan di kulkas untuk pengganti warna kuning

“ Ini pasti rasanya cocok” bisikku riang, menemukan sepotong buah labu kuning

Ku buat adonan baru dengan semangat, aroma wangi daun pandan, manis buah labu dan buah naga, warna yang cantik dari bunga telang menyatu dengan riang sangat lembut di setiap rasa. Aku memotret hasil karyaku  potongan getuk berlapis warna-warni bertabur kelapa, dengan kemasan alami yang unik daun pisang berbentuk perahu, aku unggah foto itu di grub Open Market Nusantara Sekolahku, ku tulis caption.


“Oh My Getuk Pelangi dari Dapur Ibu”

“Manisnya bukan dari gula, tapi rasa Nusantara”

Tak lama, teman – temanku berkomentar

“ Lucu banget, Tari!”

“ Ini getuk? Kok keren!”

            Sepulang sekolah, hatiku riang. Ibu menyambutku di dapur, masih dengan aroma pandan yang lembut.

“ Bagaimana getuknya, Tari?” tanyanya.

“ Cepat habis Bu, semua suka. Bu guru bilang, kita berhasil membawa rasa Nusantara ke Sekolah.
Ibu tersenyum. Aku sadar, dapur ini bukan sekedar tempat memasak, tapi tempat lahirnya cinta budaya, aroma masa lalu dan masa depan menyatu.

 “Pelangi tak selalu di langit. Kadang, ia lahir di dapur sederhana.”

“Baca juga karya saya lainnya: Batu Kecil dalam Saku Amanda“.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *